Kisah Lelaki yang Paling Kubenci di Seantero Bumi

Posted: June 6, 2008 in Cerita
Tags: ,

Jakarta siang hari. Hangat kerontang sesak oleh wajah-wajah diburu waktu, sibuk berlalu lalang tak tentu arah. Perutku sudah berbunyi minta diisi. Ya, semalam si kecil sakit, badannya panas sekali, membikin aku dan istriku wajib mengalah, mengganti jatah makan malam dan sarapan pagi kami dengan sebotol kecil sirup penurun panas dan seplastik bubur balita. Kucomot sebuah pisang goreng, dan sebuah lagi, lalu menenggak sisa kopi di gelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut yang lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh sejatinya adalah kemewahan. Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan, ditambah seorang buah hati yang sakit, wah, aku memang mesti pandai-pandai berhemat.

Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang karena bekas jerawat di masa muda. Mata mendelik merah, entah karena muak menahan kantuk atau lepas menenggak minuman keras. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu dan beraroma bacin keringat, adalah modal utamanya untuk jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku. Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah kunci Inggris. Aku tegak di samping pintu bis dengan nafas memburu dan berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini hari.

Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya menjilat telingaku. “Jangan konyol. Dia itu preman dan seberani apapun preman, ia tak pernah sendirian.” Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan kuku-kuku panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku menutup hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati begitu tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku dan meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya. Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma tengik minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala lantas berbalik masuk ke rumah makan Padang. Di sana kulihat ia melempaskan sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan sepiring nasi. Aku kesusu mengucap asma Tuhan, takut-takut kegeraman itu menyeruak tak terkendali dan mengantarku untuk memukul kepalanya dengan botol minuman bersoda. Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku berbisik malu di telinga penjual gorengan itu, ” Ngutang dulu, Mbok.”

Mbok Sumi mengangguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi terkadang para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin. Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan mulai meminta ongkos kepada para penumpang. Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku kesusu turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada masalah,
sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini. Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal. Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup mata, detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini. Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang menerjangku, mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang. Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di dunia, masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada sesosok tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata premen terminal itu, lelaki yang paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin terlindas mobil ketika meloncat menyelamatkanku. “Kakimu ?” Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi. Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum “Selama ini kau sudah begitu baik padaku, ” katanya ” Lalu apakah aku perlu menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ? Jangan bercanda kawan.”
Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi.

ps: Don’t judge the book by the cover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s